Persoalan Small Arms and Light Weapon di Indonesia

Oleh: Chyntia Dwi Rachman*

Isu-isu keamanan yang di masa lalu lebih menonjolkan aspek geopolitik dan geostrategi, seperti pengembangan kekuatan militer dan senjata, strategi serta hegemoni mulai bergeser ke arah isu-isu keamanan seperti terorisme, perompakan dan pembajakan, penyelundupan manusia, senjata dan bentuk-bentuk kejahatan lainnya. Isu-isu ini menunjukan peningkatan cukup tajam dan berkembang menjadi isu keamanan dunia. Small arms atau senjata kecil di definisikan PBB sebagai senjata api man-portable dengan amunisinya, yang dirancang untuk digunakan secara perorangan dan sebagai senjata mematikan, seperti revolver, pistol, senapan laras panjang, sub-machine guns, assault rifles dan light-machine. Sedangkan yang dimaksud dengan light weapons atau senjata ringan adalah senjata yang dirancang untuk dapat dibawa dan dipergunakan oleh satu atau dua orang, biasanya lebih berat dan besar dari senjata kecil, dirancang untuk digunakan oleh kelompok kecil/personil infrantri. Seperti, heavy machine guns, pelontar granat, anti-aircraft dan anti-tank yang mudah dibawa serta peluncur dari sistem anti-missile yang mudah dibawa. Baca selebihnya »

Ekonomi Global, Keamanan Insani dan Hukum Internasional

Oleh: Wendy Andhika Prajuli

Berbicara perkembangan dunia internasional kontemporer tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbicara mengenai fenomena globalisasi, khususnya globalisasi ekonomi. ebagaimana telah banyak dikemukakan oleh teoritisi sosial bahwa lahirnya fenomena globalisasi tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi komunikasi, informasi dan transportasi.

Globalisasi dapat didefinisikan sebagai intensifikasi relasi sosial global yang menghubungkan wilayah-wilayah berjauhan, sehingga yang terjadi di satu wilayah dapat diketahui pula di wilayah lainnya yang berada di tempat yang jauh, begitu pula sebaliknya. Dalam bahasa Giddens disebut sebagai “perentangan waktu-ruang” (time-space distantiation). Yaitu merentangnya sistem-sistem sosial melintasi waktu-ruang, atas dasar mekanisme sistem sosial dan integrasi sistem. Dalam pengertian Giddens ini, integrasi sistem adalah hubungan timbal balik antar pelaku individual atau kelompok dalam rentang waktu yang diperluas, diluar kehadiran satu sama lain. Baca selebihnya »

Globalisasi, Michael Jordan dan Kompleksitas

Oleh: Wendy Andhika Prajuli*

Secara sederhana, umumnya globalisasi dipahami sebagai neo-liberalisasi. Dengan mengaitkannya pada kebijakan-kebijakan ekonomi-politik yang digulirkan oleh WTO dan IMF. Melalui pendekatan demikian, globalisasi akhirnya hanya dipahami sebatas liberalisasi perdagangan, deregulasi, pencabutan subsidi serta privatisasi BUMN. Sialnya, ini adalah pendekatan yang paling dominan dalam upaya memahami globalisasi. Peminatnya tidak hanya datang dari kalangan enterpreneur yang sangat berkepentingan dengan pendekatan tersebut, tapi juga dari semua kalangan mulai pejabat negara, jurnalis, mahasiswa, aktivis gerakan sosial hingga pakar ilmu sosial.

Pendekatan tersebut tidak salah, namun juga tidak dapat dikatakan tepat karena ada sisi-sisi lain dari globalisasi yang tidak terungkap. Memang benar bahwa faktor ekonomi berperan penting dalam pembentukan globalisasi. Dengan kebutuhan untuk memperluas pasar dan memperbesar margin, kapitalisme melakukan deteritorialisasi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi yang pesat. Baca selebihnya »

Diplomasi Ekonomi Amerika Serikat-RRC: Tanggapan RRC terhadap Tekanan Amerika Serikat atas Pembajakan Piranti Lunak di RRC (1991-2005)

Oleh: Derry Aplianta*

Tulisan ini merupakan ringkasan hasil penelitian. Pokok persoalan dari penelitian tersebut adalah berupaya menyingkap kegiatan diplomasi ekonomi yang dilakukan AS – RRC selama periode tahun 1991 – 2005 menyangkut kegiatan pembajakan piranti lunak yang berlangsung di RRC. Penelitian ini juga berupaya mengungkapkan kebijakan-kebijakan RRC dalam penanggulangan pembajakan piranti lunak sebagai implementasi diplomasi ekonominya dengan AS.

Pembajakan piranti lunak di RRC merupakan suatu fenomena yang lahir sebagai kombinasi dari perkembangan sejarah, budaya lokal, kehidupan sosial dan gaya hidup, kemajuan teknologi, serta transisi preferensi ekonomi dari suatu negara terhadap negara lainnya. Data statistik mengenai pembajakan piranti lunak yang dikeluarkan oleh BSA menunjukkan betapa tingginya perbedaan tingkat pembajakan antara RRC dan AS. Baca selebihnya »

Historical-Comparative Research*

Oleh : Wendy Andhika P.

Penelitian sosial yang baik haruslah didahului dengan menentukan secara pasti metode penelitian yang digunakan. Secara umum metode penelitian di dalam ilmu sosial terbagi ke dalam dua kubu besar yaitu, kuantitatif dan kualitatif. Masing-masing kubu tersebut kemudian terbagi-bagi lagi ke dalam beragam jenis model metode penelitian.

Pada penelitian kualitatif salah satu model metode penelitian yang dikenal adalah historical-comparative research. Metode penelitian ini telah ada semenjak abad kesembilan belas di Eropa. Sejumlah pemikir klasik yang menggunakan metode ini adalah Durkheim, Marx dan Weber. Baca selebihnya »

East Asian Investment Bank dan Kepentingan Ekonomi Politik Cina di Asia Timur

Oleh: Nety Rusiningsih*

Dalam pertemuan Network of Asian Think-tanks (NEAT) di Wehai, Juli 2005, China sebagai negara tuan rumah mengutarakan pendapatnya mengenai pentingnya pembentukan mekanisme aliran investasi di kawasan Asia Timur berupa pendirian East Asian Investment Bank (EAIB) yang dananya berasal dari negara-negara ASEAN ditambah China, Jepang dan Korea Selatan. Dalam pertemuan Wehai tersebut disebutkan mengenai makna penting pembentukan EAIB ini terhadap perkembangan regionalisasi Asia Timur. Pertama adalah mengenai ketimpangan aliran investasi yang masuk ke negara-negara anggota ASEAN + China, Jepang, dan Korea Selatan dibandingkan FDI di luar ASEAN + China, Jepang, dan Korea Selatan. Kedua adalah persoalan modal ample yang beresiko bagi ketahanan ekonomi suatu kawasan. Ketiga adalah mengenai pergerakan tidak seimbang antara sektor perdagangan dan investasi. Kerjasama perdagangan bergerak sangat cepat, sebaliknya proyek-proyek investasi terutama proyek infrastruktur berjalan sangat lambat. Pembentukan EAIB diharapkan dapat mengatasi persoalan-persoalan tersebut sekaligus dapat meningkatkan geliat pertumbuhan ekonomi Asia Timur akibat suntikan modal jangka panjang dari EAIB.

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan mengapa pembentukan East Asia Investment Bank di kawasan Asia Timur sangat penting terhadap kepentingan ekonomi politik China di kawasan Asia Timur, berdasarkan perkembangan dan dinamika ekonomi China serta perkembangan dan dinamika ekonomi Asia Timur. Baca selebihnya »

(Masih) Tentang Debat DCA

Oleh: Yandry Kurniawan Kasim*

Sekitar beberapa bulan lalu, perhatian tentang isu pertahanan disita oleh perdebatan perjanjian kerjasama pertahanan (DCA) antara Indonesia-Singapura, yang mengatur penggunaan beberapa wilayah Indonesia sebagai area latihan Angkatan Bersenjata Singapura (SAF). Begitu banyak liputan media dan ulasan para pakar namun masih belum jelas apakah perjanjian tersebut akan dilanjutkan, ditunda, atau dihentikan. Lebih penting lagi; jika logika trias politica digunakan dan yang dimaksud dengan pemerintah adalah ekselutif, legislatif, dan yudikatif; maka arah kebijakan pemerintah masih sama mengambangnya sejak pertama kali perdebatan tentang DCA menjadi wacana luas di ruang publik. Alasannya, tak lain perbedaan persepsi yang demikian lebar terentang antara eksekutif dan DPR. Baca selebihnya »

Is Japan The Destabilizing Actor in East Asia?

By: Wendy Andhika P.

Recently, the East Asia has been witnessing some changes in Japan’s security policy; amongst them are the establishments of the Ministry of Defense and Japan-Australia security pact. These changes signify Japan’s attempt to strengthen its military capacity yet again, following the halt due to the principle of Pacifism. A question came up afterward, “will these changes threaten the security stability in East Asia?”

This essay will seek the answer by considering some factors. The first factor is Japan’s intention to be the destabilizer in the region. Second is the United Statesapproach toward Japan’s attempt to be “normal” state. And third is the East Asian countries’ approach toward multilateralism. Baca selebihnya »

Keamanan Energi dan Potensi Perlombaan Senjata

Oleh: Wendy Andhika P.*

Naiknya harga minyak hingga hampir mencapai US$100 per barel telah menyebabkan kelangkaan pasokan di sejumlah negara sehingga melahirkan kekhawatiran terjadinya gejolak sosial-politik. Kenaikan ini dipicu oleh ketidakstabilan politik dan keamanan di Timur-tengah, selain karena memang terjadi peningkatan permintaan minyak dunia, khususnya di Cina dan India.

Sulit untuk memperkirakan bahwa harga minyak ini akan cepat turun karena situasi politik di Timur-tengah saat ini tidak menunjukan tanda-tanda penurunan eskalasi. Selain itu, sejumlah negara di belahan utara dan selatan pun mulai memasuki awal musim dingin, yang tentunya akan mengonsumsi minyak lebih besar. Baca selebihnya »